Kamis, 20 Oktober 2011

Festival atau Kompetisi ??


Daripada akhirnya terus menerus salah kaprah, mendingan mencoba untuk mengingatkan. Kawan-kawan tercinta musisi, tolong perhatikan istilah-istilah yang muncul di dunia musik. Hal-hal kecil yang terkadang dianggap sepele dan dibiarkan begitu saja terkadang menjadi sebuah masalah besar.
Sering sekali… sangat sering sekali saya membaca iklan di pamflet atau poster atau media lainnya yang berisi akan diadakannya ‘Festival musik’. Lalu disitu tertulis waktu, tempat, dll. Bahkan tertulis Juara I, Juara II mendapatkan anu anu anu sampai juara harapan, favorit, & tek tek bengek nya.
Tahukah kalian dengan arti kata ‘Festival’?
Apa bedanya dengan ‘kompetisi’ atau ‘lomba’?
Ini hal kecil, tetapi secara definisi yang benar artinya sangat jauh berbeda. Saya menemukan fenomena dimana kata ‘festival’ yang dimaksud oleh pembuat iklan (E.O) tersebut sebenarnya ‘kompetisi’ musik.
Festival (dalam kamus besar Bahasa Indonesia) hari atau pekan gembira dalam rangka peringatan peristiwa penting dan bersejarah, atau sebuah ajang untuk menampilkan kreatifitas sebuah karya. Dan setahu saya jika ada sebuah acara festival, tidak ada penilaian khusus sampai jadi juara 1, 2, 3 dst. Biasanya semua peserta mendapat penghargaan yang sama. Jika memang ada, itupun hanya terfavorit saja (hanya satu peserta terbaik saja). Sedangkan,
Kompetisi/lomba adalah sebuah pertandingan, persaingan secara sehat untuk merebut kejuaraan. Agar tidak meluas, biasanya dalam sebuah kompetisi musik diambil sebuah tema. Misalnya ‘Kompetisi Musik Rock’ atau ‘kompetisi musik etnik’ dsb. Kompetisi jelas sebuah tempat untuk adu keterampilan dalam suatu bidang misalnya olahraga atau musik dll.
Jika kita akan berbuat sesuatu yang berhubungan dengan berbagai pihak seperti mengadakan festival atau kompetisi musik, marilah belajar membuat sesuatu itu dengan sebenar-benarnya. Agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Saya pun tidak tahu tulisan ini nyambung atau tidak, dan masih sangat jauh dari benar. Mohon ditambahkan atau dikoreksi.

Diposkan Sebelumnya oleh

Teks Lagu yang Buruk


Sedikit yang saya tahu tentang bahasa. Bahasa merupakan alat yang digunakan untuk membentuk pikiran dan perasaan seseorang serta dipergunakan sebagai alat komunikasi. “Semakin luas pengetahuan bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi semakin meningkat keterampilan dalam memberi makna suatu kata atau kalimat.” (Dardjowidjojo, 2003 : 282).

Bahasa jelas adalah bagian dari lagu – nyanyian. “Musik –lagu – merupakan perilaku sosial yang kompleks dan universal yang di dalamnya memuat sebuah ungkapan pikiran manusia, gagasan dan ide-ide dari otak yang mengandung sebuah sinyal pesan yang signifikan. Musik juga memilki pesan tersendiri dalam sebuah pendidikan dalam proses komunikasi, menyuarakan pesan maupun kritik terhadap suatu hal dengan gaya bahasa yang dimilki oleh pemusik tersebut.” (Djohan, 2003 : 7-8).

Lirik, kata-kata, atau syair dalam sebuah lagu adalah suatu pemikiran yang disampaikan melalui musik. Seperti yang kita tahu, lewat musik segala sesuatu akan sangat mudah tersampaikan baik secara sadar ataupun secara subliminal. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa lagu merupakan salah satu bentuk karya sastra. Bahkan bisa aja suatu lirik mengandung banyak filsafat.

Saya tidak akan lebih jauh membahas bahasa. Bukan itu unek-unek yang ada dalam pikiran saya.

Bahasa atau lirik dalam sebuah lagu akan sangat berdampak positif atau negatif kepada seseorang yang mendengarnya. Kita bisa katakan ini sebuah kualitas lirik. Dalam tulisan sebelumnya, saya menyatakan bahwa ‘tidak ada yang namanya kualitas musik’. Tetapi kali ini saya berpendapat bahwa kualitas musik dari segi lirik itu ada. Saya juga berpendapat bahwa kualitas lirik di Industri musik Indonesia, sangat buruk. Saya berani mengungkapkan hal tersebut karena kebanyakan lirik yang sekarang berada di pasaran musik tanah air mengakibatkan dampak negatif. Tema lagu nya berupa perselingkuhan, percintaan terlarang, kesakitan laki-laki yang menangis cengeng, cinta sesama jenis, bahkan hamil sebelum nikah. Ingat bahwa musik bersifat universal, kakek-nenek, ibu-bapa, remaja sampai anak balita semuanya mendengarkan musik. Secara sadar atau tidak sadar, pesan yang disampaikan penyanyi akan sangat berpengaruh besar pada seseorang. Misalnya anak kecil yang dengan polosnya menyanyikan lirik “tapi kamu ko selingkuh” atau “cinta ini sungguh tak wajar”. Dampaknya? Membaca Koran di pagi hari: “siswa kelas 4 SD enggan bersekolah karena diputuskan pacarnya yang tak lain adalah teman sekelasnya.” SD? Pacaran?. Bagaimana jika yang dinyanyikan liriknya seperti ini : “ku hamil duluan sudah tiga bulan, gara-gara pacaran sering gelap-gelapan” ???. “Ga mungkin dilakukan lah itu kan Cuma lagu”. Justru disini letak keburukan kualitas lirik nya.

Secara sadar mungkin mudah mengatakan seperti itu tetapi coba cari tau tentang subliminal. Pesan subliminal adalah sebuah konsep yang telah digunakan untuk menghasut perasaan. Studi ilmiah telah membuktikan bahwa pesan yang diterima secara tidak sadar dapat menjadi penyebab pemrograman pikiran. Pikiran bawah sadar tidak memiliki kontrol atas pesan yang diterimanya. Ini adalah alasan mengapa pesan subliminal dapat memiliki efek karena tidak ada penyaringan untuk memblokir pesan masuk sehingga menjadi sebuah pola pikir. Muse dalam lagunya MK Ultra mengatakan “we are loosing control” jika pikiran kita sudah dikuasai sesuatu seperti lagu. Ini hanya karena sebuah lirik.

Maka dari itu, berhati-hatilah dalam menulis lirik lagu. Saya rasa kita mudah untuk membedakan mana lirik yang baik mana yang buruk. Memang sih media, dan orang-orang di belakang layar juga patut membenahi diri. Tapi setidaknya kita sebagai musisi – pembuat lagu – cobalah untuk menyampaikan suatu hal yang positif lewat lagu kita.

Diluar semua ini, musik tetep free…!! Ini hanya sebuah ulasan teori tentang adanya kualitas lirik lagu yang saya nyatakan & saya sarankan kepada kawan-kawan musisi – pembuat lagu.

 http://ugaangga.blogspot.com/2011/09/lirik-lagu-yang-buruk.html

Rabu, 19 Oktober 2011

Aerodyne™ Jazz Bass® Fender


Model Name
:
Aerodyne™ Jazz Bass®
Series: Deluxe
Color / MSRP* / Part # :
  • Black
    $1,149.99

Body

Body Shape: Jazz Bass®
Body Binding: Cream Binding on Top of Body

Neck

Neck Shape: "C" Shape
Number of Frets: 20
Fret Size: Medium Jumbo
Position Inlays: Side Dot Position Inlays
Fretboard Radius: 7.25" (18.41 cm)
Fretboard: Rosewood
Neck Material: Maple
Nut Width: 1.5" (38.1 mm)
Scale Length: 34" (86.36 cm)
Headstock: Matching Painted Headstock
Neck Plate: Standard 4 Bolt

Electronics

Pickup Configuration: S/S
Bridge Pickup: Standard Jazz Bass® Single-Coil Pickup
Middle Pickup: Standard Precision Bass® Split Single-Coil Pickup
Controls: Volume 1. (Neck Pickup), Volume 2. (Bridge Pickup), Master Tone

Hardware

Hardware: Smoked Chrome
Bridge: Standard 4-Saddle
String Nut: Synthetic Bone

Miscellaneous

Strings: Fender® USA Super Bass 7250ML, NPS, (.045, .065, .080, .100 Gauges)
Unique Features: Unique Radius/Carved Top, Cream Binding on Top of Body, Smoked Chrome Bridge and Tuning Machines, Black Top Mounted Stratocaster® Output Jack, Smoked Chrome Skirted Control Knobs, Rear Mounted Controls, Side Dot Position Inlays Only, Matching Painted Headstock, Silver Applique Logo, No Pickguard

Accessories

Case/Gig Bag: None
Included Accessories: None
Control Knobs: Smoked Chrome